www.rsimadiun.com

ISLAM DAN KESEHATAN

Segala puji bagi Allah ta’ala. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah atas suri teladan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, sahabatnya, dan semua orang-orang yang istiqamah di atas ajarannya hingga Hari Kiamat tiba.

Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah apa yang diturunkan di dalam Al-Qur’an dan yang tersebut dalam As-Sunnah yang shahih berupa perintah-perintah, dan larangan-larangan serta petunjuk untuk kebaikan manusia di dunia dan akhirat. (HPT Muhammadiyah, hal. 278)

Agama Islam adalah agama yang sempurna dan menyeluruh, syariat yang dibawanya mengatur semua seluk-beluk kehidupan manusia, mulai permasalahan aqidah, ibadah, muamalah, adab/etika, hingga masalah adat kebiasaan semua ada aturannya di dalam Islam. Agama Islam datang dengan membawa maslahat kebaikan bagi umat manusia baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Kesehatan memiliki kedudukan dan tempat tersendiri dalam Islam, karena sebagaimana telah maklum bahwa syariat agama ini memiliki lima tujuan pokok syariat (maqashid asy-syari’ah), yaitu:

  1. Menjaga Agama
  2. Menjaga Jiwa
  3. Menjaga Akal
  4. Menjaga Keturunan
  5. Menjaga Harta

Kesehatan berperan penting dan masuk dalam lingkup lima tujuan pokok syariat (maqashid asy-syariah) tersebut. Kesehatan berperan penting dalam menjaga agama, karena tanpa kesehatan seorang muslim akan sangat lemah untuk bisa menjaga agamanya. Demikian pula kesehatan berperan vital dalam menjaga jiwa, akal, keturunan dan harta. Karena tanpa kesehatan mustahil seorang muslim akan bisa menjaga keempat hal tersebut dengan baik.

Perhatian Islam terhadap Kesehatan

Agama Islam yang mulia ini sangat memperhatikan masalah kesehatan. Di dalam literatur utama agama Islam (Al-Qur’an dan As-Sunnah) banyak sekali ayat-ayat dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membahas dan mengisyaratkan pentingnya nilai kesehatan. Di antara ayat-ayat Al-Qur’an tentang kesehatan adalah firman Allah ta’ala:

وثيابك فطهر (4)

“Dan pakaianmu bersihkanlah.” (QS. Al-Muddatstsir: 4-5)

Muhammad bin Sirin ketika menjelaskan tafsir ayat di atas berkata: “Maksudnya adalah cucilah pakaianmu dengan air.” Dan Ibnu Zaid berkata: “Kaum musyrikin adalah orang-orang yang tidak bersuci, oleh karena itu Allah memerintahkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bersuci dan mensucikan pakaiannya.” (Tafsir al-Qur’an al-‘Adzhim: 4/567)

Di dalam ayat yang mulia di atas terdapat perintah Allah ta’ala kepada kita untuk senantiasa menjaga kebersihan dan kesucian pakaian yang kita kenakan. Karena apabila pakaian kita kotor maka kita akan sangat rentan terkena najis dan penyakit, yang mana hal tersebut akan menjadikan kita pribadi yang tidak sehat.

Di dalam ayat lain Allah ta’ala juga berfirman:

وكلوا واشربوا ولا تسرفوا إنه لا يحب المسرفين 

“Dan makan dan minumlah kalian, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Dia (Allah) tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)

Ibnu Jarir ath-Thabari menukilkan tafsiran Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang ayat di atas: “Allah ta’ala telah menghalalkan makan dan minum selama tidak belebihan dan tidak dalam rangka kesombongan.” (Tafsir al-Qur’an al-‘Adzhim: 2/282)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di juga menjelaskan kandungan ayat yang mulia di atas dalam tafsirnya bahwa termasuk kategori perbuatan melampaui batas adalah:

  1. Makan makanan melebihi dari kadar yang cukup sehingga membahayakan tubuh.
  2. Bermewah-mewahan dalam hal makanan dan minuman serta pakaian.
  3. Memakan makanan yang haram, sementara makanan yang halal masih tersedia. (Taisir al-Karim ar-Rahman, hal: 287)

Di dalam ayat yang mulia di atas Allah ta’ala memerintahkan kita supaya makan dan minum secukupnya saja, tidak boleh berlebihan. Karena apabila kita memakan makanan atau meminum minuman secara berlebihan maka hal tersebut akan berdampak negatif bagi kesehatan tubuh kita, di samping hal tersebut juga merupaka perkara yang dibenci oleh Allah ta’ala.

Kemudian, adapun hadits-hadits Nabi yang membicarakan masalah kesehatan di antaranya adalah sabda beliau:

الفطرة خمس أو خمس من الفطرة: الختان, والاستحداد, وتنف الإبط, وتقليم الأظفار وقص الشارب

“(Sunnah-sunnah) fitrah itu ada lima, atau lima dari (sunnah-sunnah) fitrah yaitu: berkhitan, mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku, dan mencukur kumis.” (HR. Al-Bukhari: 5889, Muslim: 257)

Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani menjelaskan bahwa apabila kelima hal yang tersebut dalam hadits di atas diamalkan oleh seseorang, maka ia akan tersifati dengan sifat fitrah yang mana Allah ta’ala telah menciptakan para hamba-Nya di atas fitrah tersebut, memerintahkan mereka untuk istiqamah berada di

atasnya, dan menganjurkan mereka agar senantiasa menghiasi diri dengan sifat-sifat yang sempurna dan penampilan yang mulia (bagus). (Fath al-Bari: 13/329)

Di dalam hadits di atas terdapat isyarat dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam agar kita mengamalkan kelima hal yang termasuk fitrah manusia yaitu: berkhitan, mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku, dan mencukur kumis termasuk fitrah-fitrah manusia. Di dalam hadits tersebut juga tersirat bahwa Islam sangat memperhatikan kebersihan yang mana hal itu akan menjaga kesehatan seorang muslim.

Yang pertama khitan, bisa kita bayangkan bagaimana jika seorang muslim tidak menjalankan syariat khitan? Maka ia akan sangat rentan terkena najis dan kotoran -yang akan menyebabkan datangnya penyakit- disebabkan kepala kemaluannya masih tertutup oleh kulit yang bisa menghalanginya untuk bersuci dari air kencing secara sempurna.

Yang kedua mencukur bulu kemaluan, ini termasuk fitrah kita sebagai manusia. Karena bulu kemaluan yang dibiarkan tumbuh lebat dan panjang akan menjadi sarang najis dan penyakit.

Yang ketiga mencabut bulu ketiak, yang diperintahkan adalah mencabut, bukan memangkas atau mencukur, karena bulu ketiak yang dicabut maka itu akan meminimalisirkannya untuk tidak tumbuh lagi, dan ketiak pun menjadi bersih dan sehat. Berbeda ketika kita hanya mencukurnya saja, maka potensi untuk tumbuh lagi lebih besar, dan potensi untuk menjadi kotor dan penyakit juga lebih besar.

Yang keempat memotong kuku, memotong kuku tangan dan kaki merupakan fitrah dan sunnah. Karena kuku yang dibiarkan tumbuh panjang akan menjadi sarang penyakit yang membahayakan bagi kesehatan.

Yang kelima mencukur kumis, hal ini juga termasuk fitrah dan sunnah Nabi. Kumis yang tidak dicukur maka akan mudah terkena kotoran yang keluar dari hidung, dan akan lebih berbahaya lagi apabila digunakan untuk minum, kumis yang sudah mengandung kotoran tersebut akan mengenai minuman yang kita minum dan akan masuk ke dalam tubuh. Tentu ini sangat memabahayakan kesehatan seorang manusia.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menjelaskan bahwa syariat khitan hanya dilakukan sekali dalam seumur hidup. Adapun mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku, dan mencukur kumis maka itu semua dilakukan maksimal 40 hari sekali, jangan sampai melebihinya. Karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan tenggang waktu bagi umatnya maksimal 40 hari. (Syarh Riyadh ash-Shalihin: 3/275)

Kemudian hadits lain yang menunjukkan bahwa Islam sangat memerhatikan masalah kesehatan adalah sabda Nabi:

 لولا أن أشق على أمتي –أو على الناس- لأمرتهم بالسواك مع كل صلاة

“Sekiranya tidak memberatkan bagi umatku –atau bagi manusia- niscaya akan aku perintahkan kepada mereka untuk bersiwak (menggosok gigi) pada setiap kali hendak shalat.” (HR. Al-Bukhari: 887, Muslim: 252)

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa siwak (gosok gigi) dianjurkan pada 5 waktu (keadaan) yaitu:

  1. Ketika akan shalat, baik ketika bersuci menggunakan air (wudhu) atau dengan debu (tayammum), atau saat tidak bisa bersuci sama sekali dikarenakan tidak adanya air atau debu.
  2. Ketika berwudhu.
  3. Ketika akan membaca Al-Qur’an.
  4. Ketika bangun dari tidur.
  5. Ketika keadaan mulut berubah, baik karena sebab makan/minum, makan makanan yang berbau tak sedap, lama diam, atau banyak bicara. (Shahih Muslim bi Syarh an-Nawawi: 2/115)

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

السواك مطهرة للفم, مرضاة للرب

“Siwak adalah pembersih mulut, dan diridahi oleh Rabb (Allah ta’ala).” (HR. Ahmad: 7, an-Nasa`i: 5, Syu’aib menyatakan hadits ini shahih lighairihi)

Semua hadits-hadits yang mulia di atas menunjukkan bahwa agama kita (Islam) adalah agama yang sangat peduli dan memperhatikan kebersihan, yang mana hal tersebut akan mengantar pemeluknya menjadi pribadi yang sehat dan jauh dari penyakit.

Sehat Jasmani dan Sehat Rohani

Islam tidak hanya memperhatikan masalah kesehatan jasmani (fisik) saja, namun Islam juga memperhatikan kesehatan rohani (jiwa), bahkan ini yang utama. Fisik yang sehat tanpa disertai jiwa yang sehat maka tidak bermanfaat bagi seorang muslim. Sebaliknya jiwa yang sehat, namun fisik berpenyakit, itu juga akan menghambat seorang muslim untuk menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah ta’ala.

Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah bahwa penyakit yang menimpa seorang manusia itu ada dua macam: penyakit hati dan penyakit fisik (jasmani), dan kedua macam penyakit ini juga disebutkan di dalam Al-Qur’an. (ath-Thibbu an-Nabawi, hal: 5)

Dikarenakan penyakit ada dua macam; penyakit hati (rohani) dan penyakit fisik (jasmani), maka kesehatan pun demikian; kesehatan jasmani dan kesehatan rohani.

Wallahu a’lam bish shawab.

DOK ANAK SAYA SUDAH SEMINGGU LEBIH PANIS,TAPI PANAS NYA NAIK TURUN ,BIASA NYA PANAS DI MALAM HARI,DIA PERNA PUNYA RIWAYAT SAKIT GEJALA TIFUS ,APA ITU TIFUS LAGI YA ? TERUS SOLUSINYA GIMANA / .....

ANIKA, DS SUNDUL RT 20/09 PARANG MAGETAN
Kalender Kegiatan
July 2018
Mon
25
Tue
26
Wed
27
Thu
28
Fri
29
Sat
30
Sun
1
Mon
2
Tue
3
Wed
4
Thu
5
Fri
6
Sat
7
Sun
8
Mon
9
Tue
10
Wed
11
Thu
12
Fri
13
Sat
14
Sun
15
Mon
16
Tue
17
Wed
18
Thu
19
Fri
20
Sat
21
Sun
22
Mon
23
Tue
24
Wed
25
Thu
26
Fri
27
Sat
28
Sun
29
Mon
30
Tue
31
Wed
Thu
Fri
Sat
Sun
©2015 - www.rsimadiun.com
All rights reserved